Setiap awal tahun, pertanyaan yang sama muncul di sektor air: apa yang akan berubah lima tahun ke depan, dan teknologi apa yang layak diinvestasikan?
Pengalaman lintas industri mengajarkan satu hal tentang ramalan teknologi: ia biasanya salah pada waktunya tetapi benar pada arahnya. Bertahun-tahun lalu, “aplikasi mobile untuk semua” dan “big data” pernah diramalkan sebagai penentu masa depan sektor publik; keduanya benar arahnya, tetapi kecepatan dan bentuk kedatangannya jauh meleset dari perkiraan siapa pun. Maka esai ini tidak menebak perangkat apa yang akan populer. Ia memantau lima tekanan struktural yang sudah bekerja hari ini, karena tekanan yang sudah bekerja jauh lebih bisa diandalkan daripada tren yang baru dijanjikan.
Satu: tekanan keuangan yang memaksa pembenahan tarif
Lebih dari separuh utilitas air Indonesia menjual air di bawah biaya penyediaannya, dan kehilangan air nasional bertahan di sekitar sepertiga produksi (data dan sumbernya ). Kombinasi itu tidak bisa berjalan selamanya; di beberapa daerah, konsekuensinya sudah mulai datang dalam bentuk yang tidak diantisipasi, termasuk preseden pengambilalihan kewenangan tarif. Lima tahun ke depan, pembenahan mekanisme tarif akan bergerak dari wacana menjadi keharusan; analisis lengkapnya di tulisan tentang tarif air .
Sinyal awal yang layak dipantau: apakah tarif organisasi Anda pernah ditinjau lima tahun terakhir, dan apakah peninjauan itu punya dokumen pendukung. Organisasi yang jawabannya “tidak ingat” biasanya paling terkejut saat pembenahan akhirnya dipaksakan dari luar.
Dua: digitalisasi dua kecepatan
Jarak antara utilitas yang benar-benar memakai datanya dan yang sekadar memilikinya akan melebar. Teknologi pengukuran dan pemantauan makin murah, tetapi kasus-kasus yang terdokumentasi menunjukkan pembedanya bukan alat, melainkan urutan kerja: zona pengukuran dulu, insentif dibenahi, baru perangkat (peta kasusnya ). Utilitas yang membeli teknologi tanpa prasyarat itu akan menambah barisan monumen digital .
Sinyal awal yang layak dipantau: berapa persen dari dasbor atau laporan otomatis yang dibangun tiga tahun terakhir masih dibuka rutin oleh orang yang bukan pembuatnya. Kalau jawabannya nyaris nol, jarak dua kecepatan itu sudah terjadi, hanya belum disadari.
Tiga: regulasi yang datang dari luar sektor
Dua rezim kepatuhan baru, pelindungan data pribadi dan keamanan siber infrastruktur vital , kini mengikat utilitas air dengan kewajiban setara sektor keuangan. Keduanya lahir di luar saluran sosialisasi sektor air, sehingga paling sering luput dari radar; lima tahun ke depan, penegakannya hanya akan mengetat (peta lima lapisnya ). Dan kecerdasan buatan yang mulai masuk ke penagihan dan operasi menambah lapisan pertanyaan tata kelola yang regulasi sektoralnya belum ada (celahnya ).
Sinyal awal yang layak dipantau: siapa di organisasi yang bisa menyebutkan nama peraturan ini di luar kepala, bukan sekadar “pernah dengar ada aturan baru”. Kepatuhan yang serius biasanya dimulai dari satu orang yang benar-benar membaca teksnya.
Empat: tekanan konsolidasi bagi utilitas kecil
Utilitas berskala kecil menghadapi matematika yang makin berat: basis pelanggan yang tipis harus menanggung tuntutan layanan, kepatuhan, dan teknologi yang sama dengan utilitas besar. Arah yang masuk akal, dan mulai terlihat dibicarakan, adalah kerja sama antardaerah, layanan bersama, atau konsolidasi regional; pola ini sudah dipetakan pada studi lintas negara Bank Dunia soal agregasi utilitas air , yang mencatat penghematan biaya layanan sekaligus perbaikan mutu di permukiman kecil pada kasus-kasus yang berhasil. Ini perubahan yang lambat karena menyentuh kelembagaan dan politik lokal, tetapi arahnya sulit dibalik.
Sinyal awal yang layak dipantau: apakah utilitas Anda pernah, walau sekali, duduk satu meja dengan utilitas tetangga untuk membahas berbagi fungsi backoffice, laboratorium, atau tim teknis. Ketiadaan pembicaraan itu sendiri adalah data.
Lima: perebutan talenta digital
Setiap arus di atas membutuhkan orang yang sama: talenta data dan teknologi, yang juga diperebutkan sektor swasta dengan daya tawar gaji yang berbeda. Utilitas yang menang di arus ini bukan yang menggaji paling tinggi, melainkan yang paling serius membangun jalur karier teknis dan berhenti memperlakukan fungsi TI sebagai pelengkap administrasi.
Sinyal awal yang layak dipantau: berapa lama rata-rata staf TI terbaik bertahan sebelum pindah ke sektor swasta. Kalau jawabannya konsisten di bawah dua tahun, masalahnya bukan gaji semata, melainkan tidak adanya jalur karier yang jelas untuk mereka bertumbuh di dalam organisasi.
Cara memakai daftar ini
Lima arus ini bukan ramalan untuk dikagumi, melainkan daftar periksa. Untuk setiap arus, ajukan satu pertanyaan yang sama tentang organisasi Anda: kalau tekanan ini tiba lebih cepat dari perkiraan, apa yang hari ini sudah disiapkan?
Organisasi yang punya jawaban untuk tiga dari lima arus akan baik-baik saja. Yang tidak punya jawaban untuk satu pun sebaiknya tidak memulai dari membeli teknologi, melainkan dari empat tolok ukur dasar : tahu dulu posisi sendiri, baru memilih pertempuran.
Yang menyatukan kelima sinyal awal di atas adalah sifatnya: tidak satu pun butuh konsultan, anggaran khusus, atau proyek baru untuk diukur. Semuanya bisa dijawab minggu ini, oleh orang yang sudah ada di organisasi, hanya dengan bertanya jujur. Itulah bedanya daftar periksa dengan ramalan: ramalan meminta Anda menunggu masa depan datang, daftar periksa meminta Anda memeriksa apa yang sudah ada di depan mata.
FD Iskandar menulis tentang tata kelola teknologi, sistem, dan utilitas air. Kontak: me@fdiskandar.com .
Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi mana pun. Angka-angka kunci dirujuk dari artikel bersumber yang ditautkan. Informasi disajikan untuk tujuan edukasi, bukan nasihat profesional.