Di sektor yang rata-rata nasionalnya bertahan di kisaran 33 sampai 34 persen [1] (deret data dan sumbernya ), utilitas air dengan angka kehilangan belasan persen hampir otomatis dibaca sebagai teladan. Sering kali memang benar. Tetapi tidak selalu, dan catatan ini tentang kapan pembacaan itu keliru.
Ada empat kondisi yang membuat angka NRW rendah justru layak dibaca dengan skeptis. Keempatnya bukan teori; keempatnya adalah pertanyaan uji yang bisa diajukan siapa pun kepada angka mana pun, termasuk angka organisasinya sendiri.
Satu: rendah yang melewati titik ekonomisnya
Menekan kebocoran sampai nol justru tidak ekonomis. Konsep Economic Level of Leakage (ELL) yang dipromosikan Kelompok Spesialis Kehilangan Air IWA menyatakan ada titik ketika biaya menyelamatkan satu liter tambahan lebih besar daripada nilai liter itu sendiri [2]; pembahasan lengkapnya ada di bab “Bahasa Uang” NRW Playbook .
Konsekuensinya kontra-intuitif: utilitas yang mengejar angka serendah mungkin sebagai target tunggal bisa sedang membakar uang. Dan ada versi yang lebih halus dari masalah yang sama: angka rendah yang dicapai dengan mengorbankan pos lain, terutama peremajaan pipa. Kebocoran hari ini bisa ditekan dengan penambalan agresif, tetapi jaringan yang menua tanpa penggantian akan mengembalikan semua kebocoran itu, dengan bunga, beberapa tahun kemudian. Pertanyaan ujinya: berapa persen anggaran investasi yang dialokasikan untuk penggantian pipa, dan bagaimana trennya? Angka NRW yang turun sambil belanja peremajaan ikut turun adalah kombinasi yang patut dicurigai.
Dua: rendah yang dibeli dengan tekanan
Manajemen tekanan adalah salah satu alat penurunan kebocoran paling efektif: tekanan lebih rendah, kebocoran latar lebih kecil, dan hubungan antara tekanan jaringan dan kehilangan fisik kira-kira sebanding [3]. Tetapi alat ini punya efek samping yang jarang dibicarakan di rapat yang sama dengan angka NRW-nya. Tekanan yang diturunkan terlalu agresif dapat mengganggu pasokan di ujung jaringan dan wilayah yang lebih tinggi, dan pada jaringan yang pasokannya terputus-putus, fluktuasi tekanan membuka risiko intrusi air kotor ke dalam pipa [4].
Artinya, angka NRW bisa membaik sementara keluhan pelanggan memburuk, dan keduanya disebabkan tindakan yang sama. Pertanyaan ujinya: apakah tren keluhan kualitas dan kontinuitas pasokan dibaca berdampingan dengan tren NRW? Kalau dua kurva itu tidak pernah ada di satu halaman, tidak ada yang benar-benar tahu berapa harga angka NRW yang rendah itu.
Tiga: rendah yang tidak pernah diuji
Ini kondisi yang paling sering terjadi dan paling jarang diakui: angka rendah yang merupakan artefak pengukuran. NRW dihitung dari neraca air [5], dan neraca air hanya sebaik komponennya: meter induk produksi yang terkalibrasi, meter pelanggan yang belum melewati umur ekonomisnya, dan pencatatan konsumsi yang jujur. Meter pelanggan yang aus mencatat konsumsi lebih rendah dari kenyataan [6], yang secara aritmetika justru menaikkan NRW; sebaliknya, praktik estimasi dan penyesuaian administratif bisa menurunkan NRW di atas kertas tanpa satu liter pun air yang diselamatkan.
Insentifnya juga nyata: angka NRW adalah satu dari 18 indikator yang dipakai menilai kinerja BUMD air minum [1], dan angka yang dilaporkan lebih rendah dari realitas fisik adalah godaan yang terdokumentasi ada di sektor ini [3] (pembahasan bias penilaian kinerja ini saya tulis lengkap di analisis paradoks predikat sehat ). Pertanyaan ujinya: kapan terakhir kali neraca air diaudit pihak yang tidak dinilai oleh angkanya sendiri? Untuk yang ingin mulai dari dasar, Kalkulator Neraca Air menyusun neraca standar IWA langsung di peramban.
Empat: rendah yang menyembunyikan kehilangan komersial
Angka NRW adalah agregat dari dua hal yang sangat berbeda: kehilangan fisik (air yang benar-benar bocor) dan kehilangan komersial (air yang sampai ke pelanggan tetapi tidak menjadi pendapatan: meter tidak akurat, sambungan tak resmi, kesalahan penagihan). Fokus program hampir selalu ke yang pertama karena ia terlihat; padahal untuk neraca keuangan, satu kubik kehilangan komersial lebih mahal daripada satu kubik kebocoran fisik, karena ia air yang sudah menanggung seluruh biaya produksi dan pengantarannya [3].
Utilitas dengan NRW agregat yang rendah bisa saja menyimpan kehilangan komersial yang tidak pernah dipetakan. Pertanyaan ujinya: bisakah angka NRW organisasi dipecah menjadi komponen fisik dan komersial, dan kapan pemecahan itu terakhir divalidasi? Kalau jawabannya “kami hanya punya angka totalnya”, maka separuh masalahnya belum pernah dilihat.
Empat pertanyaan itu sebagai alat
| Kondisi | Pertanyaan uji |
|---|---|
| Melewati titik ekonomis | Berapa alokasi peremajaan pipa, dan bagaimana trennya? |
| Dibeli dengan tekanan | Apakah tren keluhan pasokan dibaca berdampingan dengan tren NRW? |
| Tidak pernah diuji | Kapan neraca air terakhir diaudit pihak independen? |
| Menyembunyikan kehilangan komersial | Bisakah NRW dipecah fisik vs komersial, dan kapan divalidasi? |
Tabel 1. Empat pertanyaan uji untuk angka NRW yang tampak baik. Angka yang lolos keempatnya layak dirayakan; yang tidak, layak diperiksa.
Kesimpulannya bukan bahwa angka rendah itu buruk. Kesimpulannya: angka, berapa pun nilainya, bukan pengganti pemahaman. Utilitas yang sehat bukan yang angkanya paling rendah, melainkan yang paling tahu dari mana angkanya berasal, dan berani mengujinya.
FD Iskandar menulis tentang tata kelola teknologi, sistem, dan utilitas air. Metodologi lengkap neraca air, ELL, manajemen tekanan, dan kehilangan komersial tersedia gratis di NRW Playbook . Kontak: me@fdiskandar.com .
Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi mana pun. Informasi yang disajikan bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat profesional. Untuk keputusan strategis, konsultasikan dengan ahli yang berkompeten.
Referensi
- Direktorat Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, "Buku Kinerja BUMD Air Minum 2023," 2023. https://www.perpamsi.or.id/storage/assets/upload/3m4pBwREtq7nSEIsaguDMgwnROX5h7pwqOuw7HD2.pdf
- IWA Water Loss Specialist Group, "Position Statement: Use of the Infrastructure Leakage Index (ILI) in EU Directives and Regulations," International Water Association, 2022. https://iwa-website-assets.s3.eu-west-2.amazonaws.com/blogs_1750245155507_6757b78552.pdf
- Bill Kingdom, Roland Liemberger, Philippe Marin, "The Challenge of Reducing Non-Revenue Water (NRW) in Developing Countries," World Bank Water Supply and Sanitation Sector Board Discussion Paper No. 8, 2006. https://documents1.worldbank.org/curated/en/385761468330326484/pdf/394050Reducing1e0water0WSS81PUBLIC1.pdf
- David D. J. Taylor, Alexander H. Slocum, Andrew J. Whittle, "Analytical Scaling Relations to Evaluate Leakage and Intrusion in Intermittent Water Supply Systems," PLOS ONE 13(5), 2018. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0196887
- Allan Lambert, "Assessing Non-Revenue Water and Its Components: A Practical Approach," Water21, IWA Water Loss Task Force, 2003. https://www.pacificwater.org/_resources/article/files/IWA%20Standard%20Water%20Balance_Water%20Loss%20Task%20Force%20Article%202.pdf
- F. A. Couvelis, J. E. van Zyl, "Apparent Losses Due to Domestic Water Meter Under-Registration in South Africa," Water SA 41(5), 2015. https://scielo.org.za/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1816-79502015000500011